Saturday, July 11, 2009

RINDU tanpa AKHIR

“Wujud paling jelas dan nyata adalah Allah swt. Semestinya Dia dikenal dan diketahui lebih dahulu dibanding yang lainnya. Dia juga yang paling mudah diterima akal. Namun, kenyataan yang terjadi malah sebaliknya.”

Sayang, hanya sedikit yang mempercayai cinta kepada Allah. Bahkan, sebahagian mereka mengingkari kemungkinan keberadaannya. Dalam pandangan mereka, cinta kepada Allah tidak lain adalah upaya sungguh-sungguh dan terus menerus untuk taat kepada-Nya. Mereka lupa, cinta yang hakiki mustahil terjadi tanpa bentuk dan peragaan.

Cinta kepada Allah dan Rasulullah saw itu wajib bagi setiap insan.
Bagaimana mungkin akan diwajibkan kalau pada kenyataannya cinta itu bukan sesuatu yang memang ada ?.
Bagaimana mungkin cinta ditafsirkan sebagai ketaatan, padahal ketaatan hanyalah buah dari cinta ?.

Allah swt mewahyukan kepada Nabi Dawud as.:
“Banyak orang mengaku cinta kepada-Ku, pada hal sebenarnya bohong belaka. Bagaimana tidaknya, ketika malam mulai kelam ia malah tidur meninggalkan Aku. Bukankah orang yang jatuh cinta ingin selalu berjumpa dengan kekasihnya ?. Inilah Aku ! Aku hadir dihadapan orang-orang yang mencari-Ku.”

“Wahai hamba-Ku, demi hakmu, Aku mencintaimu.
Dan, demi hak-Ku padamu, hendaklah kamu mencintai-Ku !”

Allah swt mewahyukan kepada Nabi Dawud as.:
“Kalau saja orang yang merenungkan Aku itu tahu, betapa Aku menunggu kedatangan mereka, betapa Aku selalu menemani mereka dan betapa Aku rindu untuk menyingkapkan kemaksiatan dari mereka, maka pastilah mereka akan mati kerana rindu bertemu Aku. Tulang belulang mereka juga pasti terpotong-potang kerana kecintaan mereka kepada-Ku. Wahai Dawud as, inilah kehendak-Ku terhadap orang-orang yang merenungkan Aku. Bayangkan bagaimana kehendak-Ku kepada orang-orang yang mengadap Aku ?. Wahai Dawud as, sesuatu yang paling aku perlukan dari seorang hamba adalah ketika ia tidak lagi memerlukan Aku ( untuk memenuhi keinginannya itu). Sesuatu yang paling aku sayangi pada hambaku adalah ketika ia merenungkan Aku. Dan, sesuatu yang paling agung bagi-Ku adalah ketika ia kembali kepada-Ku”.

Aku tinggalkan apa yang kuinginkan.
Demi apa yang Dia inginkan.

Salah seorang ahli mukasyafah yang juga pencinta pernah berkata:
”Aku menyembah Allah swt selama tiga puluh tahun, dengan amalan hati dan anggota tubuh. Aku kerahkan seluruh daya dan kekuatan dengan penuh kesungguhan, sampai aku mengira bahawa aku telah mendapatkan sesuatu di sisi Allah swt.” Setelah mengatakan itu, ia menyebutkan ketersingkapan beberapa tanda langit dalam sebuah cerita yang sangat panjang. Di akhir ceritanya itu, ia berkata, ”Kemudian sampailah aku pada sebuah saf atau barisan para malaikat yang jumlahnya sebanyak makhluk Allah seluruhnya. Aku bertanya, ’Siapakah kalian semua ?’ Mereka menjawab, ’Kami adalah para pencinta Allah Yang Maha Agung dan Maha Mulia. Kami menyembah-Nya di sini sejak tiga ratus ribu tahun. Tidak ada sesuatu pun yang terlintas di hati kami selain Dia. Tidak ada yang kami sebut-sebut kecuali Dia semata.’ Mendengarkan itu, akupun berkata dalam hati, ’Sungguh aku merasa malu dengan amal-amalku. Lalu aku serahkan saja semuanya kepada Zat yang berhak memberikan ancaman agar Dia meringankan aku di Jahanam.’”

No comments:

Post a Comment